Hai all.
Ngga kerasa ini udah november. Bulan depan desember.And it means, international study tour and Bontang wait me :) Gileeeeeeeeeeee seneng banget! Terus bulan ini, insyaAllah kalo masih dikasih kesempatan, sweet sixteenth juga bakal dateng :) Huahahahaaaa jadi pengen cepet-cepet deeh. Tapi pas aku ultah pas ada tahajud bersama kalo ngga salah,semoga ngga dikerjain :D
Hmmmmhh..
Yeah, half of something is better than all of nothing.
Lagi pengen nulis itu tu hehehehe
08 November 2009
All of nothing
Diposkan oleh Kenny Nur Fathonah di 12:35 PM 0 nasehaat :D
KamiJuga Bangga
Berita di televisi, radio, dan berbagai
Ketika itu batik belum sepopuler sekarang. Batik hanya dipakai oleh orang-orang dewasa ketika menghadiri acara-acara resmi. Menyadari bahwa semakin rendahnya kebanggaan berbatik di kalangan anak muda, Bu Yana, seorang guru kesenian di SMA Pelangi, memiliki ide untuk menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap batik ketika batik sedang gencar-gencarnya diperebutkan antara
“Hmm... Dulu keberadaan batik cuma dipandang sebelah mata. Begini
“Bu, ibu bisa nggak gambar motif batik? Adek disuruh gambar motif batik sama Pak Guru, tapi adek nggak ngerti,” kata anak Bu Yana.
“Gambar motif batik? Adek gambar motif batiknya di kertas atau di kain?” tanya Bu
“Di kertas, Bu. Kayak contoh di buku ini nih. Temen-temen adek sudah pada selesai semua, tinggal adek aja yang belum. Ibu bisa bantuin nggak?” tanya anak Bu Yana lagi.
“Ooooh.. Ini mah gampang! Ayo, sini, Dek, ibu ajarin cara buatnya. Habis itu kamu lanjutin sendiri ya..” ajak Bu Yana.
“Iya, Bu. Sebentar adek ambil buku gambar sama pensilnya dulu ya,” kata adek kemudian.
Sementara sang anak sedang mengambil alat-alatnya, Bu Yana pun berpikir, “Hmm.. kenapa nggak diadakan lomba membatik, ya? Wah harus aku usulkan nih.. Mumpung batik lagi ramai dibicarakan. Siapa tahu dapat membantu mempromosikan batik di kalangan anak muda. Ya, ya, besok akan aku usulkan.” Tak lama kemudian sang anak pun datang dan Bu Yana pun larut dalam mengajari anaknya membatik.
*
Keesokan harinya, Bu Yana terus memikirkan idenya itu saat sedang mengajar. Dia menjadi ragu-ragu akan mengusulkan idenya itu atau tidak. Entah mengapa, ia yakin guru-guru di SMA Pelangi tidak akan mendukung idenya itu. Jika gurunya saja tidak mendukung, apalagi muridnya. Benar tidak? Tapi ia tetap berniat mengusulkannya dengan segala resiko yang akan terjadi.
Kebetulan hari itu akan diadakan rapat mingguan para guru. Setelah rapat berlangsung sekitar 30 menit, Bu Yana pun memberanikan diri menyampaikan idenya itu.
“Jadi, Pak, Bu, saya hendak mengusulkan sebuah kegiatan, di mana kegiatan ini semata-mata hanya sebuah bentuk partisipasi kita semua untuk turut serta melestarikan budaya-budaya kita yang nyaris punah.”
“Kalau boleh tahu, kegiatan dalam bentuk apa itu, Bu Yana?”
“Seperti yang kita ketahui, saat ini batik menjadi rebutan antara
Guru-guru yang lain pun ramai berbisik-bisik setelah Bu Yana menyampaikan aspirasinya. Bu Yana menjadi ciut nyalinya, bukan karena takut idenya bakal ditolak, tetapi ia takut tidak bisa memberikan apa-apa untuk kelangsungan budaya
“Ehm... Tolong tenang dulu semuanya. Sebelumnya terima kasih, Bu Yana, atas idenya. Ide dari Bu Yana ini cukup baik, mengingat banyaknya budaya
“Hmm.. Terus terang saya tidak memiliki kenalan pembatik, Pak. Tapi akan saya usahakan untuk mencarinya jika usul saya ini disetujui,” ujar Bu Yana.
“Baiklah kalau begitu. Bagaimana Bapak dan Ibu guru? Apa kalian setuju?” tanya Pak Kepala Sekolah lagi.
Dan tanpa dikomando lagi seluruh guru pun berkata, “Setujuuu! Kenapa tidak? Sebagai warga negara yang baik kita harus turut bangga dan melestarikan budaya kita!”
Mendengar jawaban itu, Bu Yana langsung mengucap syukur dan kembali berdoa agar dimudahkan dalam mencari pembatik. Tak terasa, waktu rapat pun telah berakhir dan Bu Yana pun pulang dengan hati yang tenang.
*
Sesampainya di rumah, Bu Yana berpikir keras bagaimana cara mencari pembatik yang tinggal di
“Aduuh, maaf ya, tadi itu telepon dari teman saya yang hendak mengadakan pameran seni budaya gitu satu minggu lagi, kebetulan saya dimintai tolong membantu mengurus pamerannya itu.”
“Oooh.. pameran apa kalau boleh tau? Saya juga sedang bingung nih, mesti nyari pembatik di
“Hah? Waaaah.. kebetulan sekali, Yan. Pameran yang sedang saya urus ini pameran tentang batik. Taulah gosip-gosip mengenai batik akhir-akhir ini. Nah, teman saya, Pak Aldi, yang barusan menelpon ini seorang pembatik!”
“Subhanallah, Allah memang selalu membantu hambanya yang sedang kesusahan, ya. Bolehkah saya minta nomor teleponnya? Atau mungkin alamat rumahnya? Kira-kira dia bersedia tidak ya untuk menjadi narasumber di sekolah tempat saya mengajar?”
“Pasti dia bersedia, bagaimana tidak. Hampir separuh hidupnya dia gunakan untuk batik, batik seakan telah menyatu dengan jiwa dan raganya. Ini alamat dan nomor teleponnya. Negoisasi tentang waktunya saja dulu, untuk biaya, mungkin dia menetapkan tarif yang rendah atau mungkin dia akan menjadi narasumber secara cuma-cuma. Nanti kalau ada kesulitan, hubungi saya saja, Yan. Insya Allah akan saya bantu. Sekalian saya pamit ya, sudah mau Maghrib. Assalamualaikum.”
“Iya, terimakasih banyak, ya. Kapan-kapan mampir lagi. Waalaikumsalam.”
Setelah kepulangan sang teman, Bu Yana langsung mengambil air wudhu dan segera sholat. Setelah sholat ia tak henti-hentinya mengucap syukur atas sore yang tak terduga itu. Sudah dipertemukan kembali dengan teman lama, alamat seorang pembatik bernama Pak Aldi pun telah di tangan.
*
Keesokan harinya, sepulang dari mengajar, Bu Yana langsung mendatangi alamat Pak Aldi tersebut. Sesampainya di
“Begini, Pak. Maksud kedatangan saya kesini adalah meminta bapak untuk menjadi narasumber mengenai batik di tempat saya mengajar. Apakah Bapak bersedia?”
“Oh, dalam rangka apa memangnya, Bu? Kalo masalah bersedia, jelas saya bersedia. Kira-kira kapan waktunya, ya?”
“Hmm.. tidak dalam rangka apa-apa. Saya hanya turut merasa bertanggung jawab atas pelestarian budaya kita sendiri. Kalau 2 minggu lagi bagaimana, Pak? Kira-kira berapa biayanya?”
“Wah, bagus-bagus! Ternyata masih ada yang peduli dengan budaya kita. 2 minggu lagi? Sepertinya waktu saya banyak kosong 2 minggu lagi. Masalah biaya tidak usah dipikirkan, saya terbiasa tidak dibayar. Hmm.. kira-kira apa saja yang harus saya sampaikan, Bu? Apa ada praktek membatik sekalian?”
“Wah, terima kasih banyak, Pak! Terima kasih. Nanti saya konfirmasi lagi tentang harinya. Yang disampaikan mungkin tentang sejarah batik dan cara-cara membatik saja, kalau Bapak bersedia, boleh juga ada praktek membatiknya, kebetulan saya punya rencana untuk mengadakan lomba membatik setelah ini. Tapi tidak mungkin Bapak sendiri yang mengajari mereka membatik,
“Kalau masalah itu Ibu tidak usah ikut memikirkan. Kebetulan saya memiliki beberapa orang teman yang berkecimpung di dunia batik-membatik juga, pasti mereka bersedia membantu.”
“Baiklah kalau begitu, Pak. Ini nomor telepon saya, paling lambat tiga hari sebelum hari H saya akan menghubungi Bapak. Sekali lagi terima kasih banyak, Pak. Saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Iya, terima kasih kembali, Bu. Waalaikumsalam.”
*
Dua minggu kemudian...
Hari yang sangat dinanti oleh Bu Yana pun tiba. Sesuai kesepakatan dengan pihak sekolah, jam belajar di siang hari diganti dengan materi tentang batik yang akan disampaikan oleh Pak Aldi. Anak-anak sengaja tidak diberitahu lebih dahulu agar pihak sekolah sendiri mengetahui bagaimana reaksi mereka ketika dengan ‘terpaksa’ harus mendengarkan materi mengenai budaya mereka sendiri.
Saat Pak Aldi mulai menerangkan, banyak anak-anak yang masih sibuk ngobrol sendiri. Namun setelah Pak Aldi menunjukkan beberapa fakta menarik mengenai batik, serta meperlihatkan betapa berharganya batik hingga banyak yang mengklaim bahwa itu milik mereka, barulah anak-anak mulai antusias mendengarkan. Bahkan tak jarang mereka berdecak kagum dan berebut untuk bertanya seputar batik.
Suasana semakin hidup ketika anak-anak disuruh untuk membagi dirinya dalam beberapa kelompok kecil untuk praktek membatik. Awalnya mereka hanya disuruh memperhatikan Pak Aldi dan kawan-kawan membatik, namun lama-kelamaan tangan mereka gatal untuk turut mencoba. Kehebohan-kehebohan pun dimulai.
“Aaaaw..!! Panas banget!”
“Aduuuuh, susah banget sih ngikutin garisnya, mencong-mencong terus!”
“Pegel ni, bungkuk mulu.”
“
“Aduuuh, kalau begini caranya, kapan selesainya, nih?!”
“............... Pantes aja banyak yang mau.........”
Kira-kira itulah sebagian kecil dari kehebohan yang terjadi. Namun, sebagian besar dari mereka berhasil menyelesaikan batiknya walaupun tidak bisa dibilang rapi. Saat melihat batik karya mereka dijemur, mereka tak hentinya berdecak kagum dan berkata, “Hei, lihat, bukan cuma Pak Aldi dan kawan-kawan saja yang bisa membatik, tetapi aku juga!” dengan mimik muka bangga.
Setelah kurang lebih dua jam mereka mencoba membatik, mereka pun dikumpulkan kembali di dalam aula. Di dalam aula, Pak Aldi menyampaikan pesan terakhir untuk mereka. “Janganlah kamu merasa malu terhadap budayamu sendiri, jika kalian tahu bagaimana leluhur kita rela mengorbankan nyawanya hanya untuk apa yang sekarang kalian anggap ketinggalan zaman, kalian sungguh akan merasa malu. Apalagi jika sesuatu itu diambil dengan paksa tanpa kalian ketahui, mau ditaruh mana harga diri kalian? Ambilah pelajaran dari kegiatan membatik ini, niscaya kalian akan merasa bangga bertanah air
Setelah itu, Bu Yana kembali mengambil alih aula. Ia kembali menyuruh anak-anak ke dalam kelompok-kelompok kecil. Namun, belum ia sempat memberi arahan tentang tugas selanjutnya, Bapak Kepala Sekolah minta izin untuk berbicara sebentar.
“Anak-anak yang saya banggakan, saya melihat kalian tampak antusias sekali, ya, dalam membatik tadi. Saya mewakili seluruh rekan-rekan guru sangat bangga terhadap kalian. Ternyata di era globalisasi ini kalian tetap peduli dengan budaya kalian. Teruskan sikap peduli kalian itu, ya, Nak.
Setelah Bapak Kepala Sekolah mengakhiri sambutan singkatnya, Bu Yana langsung memberikan tugas selanjutnya.
“Jadi begini anak-anak, kalian
“Kalau saya, sih, tidak keberatan, Bu. Lagipula saya masih penasaran untuk dapat menghasilkan batik yang indah,” kata Resti, siswi kelas XII.
“Wah, kalau saya justru sebaliknya. Saya keberatan sekali, Bu. Masak liburan mesti membatik? Kapan refreshingnya dong?” ujar Ricky, siswa kelas X.
“Iya, Bu, betul kata Ricky. Kapan kita refreshingnya nih? Nanti sajalah membatiknya kalau sudah sekolah seperti biasa,” usul Deni, siswa kelas X.
“Tapi kalau setelah libur, pasti kita semua sudah lupa cara membatik! Bagaimana kalau kita voting saja, Bu? Bagaimana teman-teman, kita voting saja ya biar adil,” kata Fira, siswi kelas XI.
“Hmm.. baiklah. Mari kita voting sekarang!” ajak Bu Yana kemudian.
*
“Setuju.. Tidak.. Tidak.. Setuju.. Tidak.. Setuju.. Setuju.. Setuju.. Setuju.. Setuju.. Hmmm.. Setuju.. 150 suara.. Tidak setuju.. 146 suara.. Wah, beda tipis sekali, anak-anak! Jadi, sesuai kesepakatan awal kita, karena yang setuju lebih banyak daripada yang tidak setuju, membatik menjadi tugas wajib bagi kalian selama liburan. Liburan ini kurang lebih selama satu bulan, saya rasa lebih dari cukup waktu yang diberikan. Ibu tunggu kreasi batik kalian setelah masuk. Mengerti?” tanya Bu
“Mengerti, Buuuuu.....,” jawab anak-anak bersama-sama.
“Baiklah kalau begitu kita tutup dengan doa dan kalian boleh pulang kerumah masing-masing,” tutup Bu Yana.
*
Satu bulan kemudian..
“Eh, liat dong batik kamu!”
“Iiiih.. batiknya lucu motifnya! Nanti ajarin aku dong yang begini!”
“Warnanya kalem banget nih, tapi unik!”
Begitulah suasana di hari pertama mereka masuk sekolah. Mereka ramai memamerkan kreasi batik masing-masing. Tidak ada yang jelek. Semua bagus dan cukup kreatif. Sampai akhirnya Bu Yana menyuruh mereka untuk mengumpulkan batik-batik tersebut.
Semua batik itu mendapat nilai yang sama, nilai sempurna. Nilai itu tidak dilihat dari serapi apa mereka membatik, tapi kemauan mereka untuk berusaha bisa membuat batik. Membatik
“Hallo.. Assalamualaikum. Bisa bicara dengan Pak Aldi?”
“Waalaikumsalam. Ya, dengan saya sendiri. Ini dengan siapa?”
“Ini dengan Bu Yana, Pak. Guru SMA Pelangi yang pernah meminta anda untuk menjadi narasumber mengenai batik.”
“Hmmm.. Oooh.. Iya, saya ingat! Wah, ada apalagi, Bu?”
“Begini, Pak. Setelah mendapat pelajaran singkat membatik dari Bapak, saya menugaskan anak-anak untuk membuat batik kreasi mereka sendiri. Batik-batik itu hari ini dikumpulkan. Hasilnya cukup memuaskan, lho, Pak. Karena takut batik-batik itu menganggur, saya hendak meminta bantuan Bapak untuk membantu mengadakan pameran batik, nantinya uang yang terkumpul rencananya akan kami sumbangkan ke anak-anak jalanan.”
“Waaah.. Ide bagus, Bu. Baiklah akan saya bantu. Mungkin satu bulan lagi kita adakan pameran batik-batik tersebut. Kebetulan saya mendengar kabar sekitar awal Oktober batik akan diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan budaya yang sah milik
“Oke, masalah kapan bisa kita bicarakan bersama. Baiklah, Pak, terima kasih lagi atas kerjasamanya. Jangan bosan-bosan bekerjasama dengan saya, ya, Pak. Hehehe..”
“Tidak masalah, Bu. Selama itu kegiatan positif, kenapa tidak?”
“Iya, Pak. Baiklah kalau begitu, nanti Bapak saya hubungi lagi. Maaf mengganggu, Assalamualaikum.”
“Oke, no problem.. Waalaikumsalam.”
*
2 Oktober 2009 – Batik’s Day
“Wah, Pak Aldi, pameran ini ramai sekali ya! Saya tidak menyangkan bakal seramai ini.”
“Iya, Bu. Ini mengalahkan pameran batik saya yang dahulu. Mungkin karena bertepatan dengan Hari Batik makanya ramai pengunjung.”
“Bisa jadi karena faktor itu, Pak. Pasti anak-anak bangga sekali karya mereka dipamerkan seperti ini.”
Dibelakang gedung pameran, siswa-siswi SMA Pelangi ramai mengagumi hasil karya mereka masing-masing. Mereka sangat bangga karya mereka dapat dilihat banyak orang. Dan tanpa diduga-duga, uang yang berhasil dikumpulkan pun jumlahnya sangat fantastis! Setelah pameran berakhir, mereka langsung menuju ke tempat anak-anak jalanan. Mereka membagikan uang tersebut dalam bentuk baju, buku pelajaran, serta makanan. Wajah anak-anak jalanan yang tadinya lesu menjadi ceria kembali. Tawa pun muncul seiring dengan senyum seluruh warga Indonesia atas ditetapkannya batik sebagai warisan milik Indonesia.
Bu Yana, Pak Aldi, dan seluruh guru serta murid SMA Pelangi hanyalah sebagian kecil masyarakat yang masih peduli dengan budaya. Di luar sana pasti masih banyak masyarakat yang peduli dengan budaya juga. Kami bangga dengan budaya Indonesia!
“Janganlah kamu merasa malu terhadap budayamu sendiri, jika kalian tahu bagaimana leluhur kita rela mengorbankan nyawanya hanya untuk apa yang sekarang kalian anggap ketinggalan zaman, kalian sungguh akan merasa malu. Apalagi jika sesuatu itu diambil dengan paksa tanpa kalian ketahui, mau ditaruh mana harga diri kalian? Ambilah pelajaran dari kegiatan membatik ini, niscaya kalian akan merasa bangga bertanah air Indonesia.”
Diposkan oleh Kenny Nur Fathonah di 12:18 PM 0 nasehaat :D
24 Oktober 2009
nenek
Lama ga ngepost. ah males gila nih lama-lama ckck
Tapi kemaren aku denger gini lo.. "Buat anak kelas 1,2,3 boleh bawa laptop asal lapor dan dititipkan' HEY AKU NGGA SALAH DENGER KAN? Tapi kok pada ga denger gitu sih krik krik semoga ebneran boleh laaaaaaaah ;)
aduh nggatau dah mau ngomong apalagi. mau bikin cerpen dulu yak. haduuuuuuuuuh >.<
mau bikin draft naskah drama juga. hadoooooooooh >.<
I don't have the strength to stay away from you anymore :(
Mau kerumah ah aaaaaaaaaaaahhh
Diposkan oleh Kenny Nur Fathonah di 8:44 AM 0 nasehaat :D

